Kekalahan dramatis 2-3 dari Manchester United di Emirates Stadium menjadi pukulan telak bagi Arsenal. Bermain di kandang sendiri, The Gunners justru harus menyerah lewat gol telat Matheus Cunha pada menit ke-87, yang memastikan kemenangan liga pertama United di markas Arsenal sejak 2017.

Hasil ini membuat posisi Arsenal di puncak klasemen Premier League kembali terancam. Mereka kini hanya unggul empat poin dari Manchester City dan Aston Villa, sebuah jarak yang sangat rawan di tengah ketatnya persaingan gelar musim ini.
Lebih dari sekadar kehilangan poin, kekalahan ini menandai laga liga ketiga beruntun yang gagal dimenangkan Arsenal. Situasi tersebut memunculkan kembali tanda tanya besar soal konsistensi dan ketahanan mental tim asuhan Mikel Arteta.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Kesalahan Sendiri yang Berujung Hukuman
Arsenal sejatinya mengawali laga dengan cukup baik. Mereka unggul lebih dulu melalui gol bunuh diri Lisandro Martinez pada menit ke-29, yang memberi kepercayaan diri di babak pertama. Namun keunggulan tersebut tak mampu dipertahankan dengan baik.
Kesalahan fatal dilakukan Martin Zubimendi, yang gagal menguasai bola dengan bersih dan memberi peluang emas bagi Bryan Mbeumo untuk menyamakan skor. Momen ini menjadi titik balik, karena United tampil semakin percaya diri setelahnya.
Di babak kedua, Arsenal kembali kehilangan fokus. Gol indah Patrick Dorgu membawa United unggul, dan meski Mikel Merino sempat menyamakan skor di menit ke-84, kesalahan organisasi pertahanan kembali dihukum lewat gol Cunha di menit akhir.
Baca Juga: Manchester United Siap Datangkan Ruben Neves dari Arab Saudi
Arteta Akui Penampilan Arsenal Tak Ideal

Usai laga, Mikel Arteta tak menutupi kekecewaannya. Ia mengakui Arsenal tampil jauh di bawah standar, terutama dari sisi teknis. Menurutnya, kesalahan kecil menjadi sangat mahal ketika menghadapi tim yang terorganisir seperti Manchester United.
Arteta juga menanggapi komentar Patrick Vieira yang mempertanyakan kekuatan mental Arsenal. Pelatih asal Spanyol itu menegaskan bahwa semua opini diterima, namun jawabannya harus ditunjukkan di atas lapangan, bukan lewat perdebatan.
Ia mencontohkan perbedaan kontras performa timnya saat menang 3-1 atas Inter Milan di Liga Champions. “Kami luar biasa di Milan, tetapi hari ini tidak cukup baik. Jika bermain buruk, tim sekelas United akan menghukum Anda,” ujar Arteta.
Reaksi Tim Jadi Kunci Perburuan Gelar
Sorakan kecewa dari sebagian suporter di akhir laga tak dianggap Arteta sebagai masalah utama. Menurutnya, tuntutan untuk selalu lebih baik adalah hal wajar di klub sebesar Arsenal, terutama saat berada dalam jalur perebutan gelar.
Arteta menekankan bahwa kekalahan adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kesuksesan. Yang terpenting, kata dia, adalah bagaimana tim bereaksi dan bangkit setelah hasil mengecewakan tersebut.
Kesempatan untuk merespons cepat datang di Liga Champions. Arsenal akan menghadapi Kairat Almaty pada laga terakhir fase liga, dengan status sudah lolos ke babak 16 besar. Bagi Arteta, laga ini menjadi momentum penting untuk membuktikan bahwa Arsenal masih punya mental juara. Simak terus pembahasan sepak bola terupdate lainnya hanya di goalflight.com.
